Saya mengalami bab yang keras sekali pada saat hamil, sampai suatu saat mengalami sakit yang luar biasa. Setelah melahirkan walaupun bab saya sudah tidak keras, tetap saja saya merasakan sakit. Awalny... detail
Joko Haryanto
Terima kasih berkat pengobatan dari pak Gunawan, keluhan wasir saya sudah berkurang dan sembuh. Mohon di kirimkan photo ke email berikut sebagaimana pembicaran terdahulu. Terima kasih atas bantuan pen... detail
Brian Manope - Bitung Barat
Sebelum berobat ke Pak Gunawan, saya sudah menderita anus fistula selama 4 tahun lebih, setiap kali kumat sakit sekali, sampai saya tidak dapat bekerja. Setelah saya disuruh Bos saya untuk berobat k... detail
Tak semua pengharum ruangan ternyata aman bagi kesehatan. Ada
yang bisa membuat pusing, mual, hingga muntah. Bahkan pewangi tertentu bisa
mengganggu pertumbuhan janin!
Pemakaian produk apa pun yang merupakan zat-zat kimia, bila berlebihan atau berkontak
langsung melalui sistem pernapasan, akan menimbulkan gangguan pada fungsi
sistem saraf. Demikian dikemukakan Dr. rer. Nat. Budiawan dari Puska RKL (Pusat
Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan).
Contohnya, pingsan dan gangguan sistem pernapasan. Begitu juga jika kontak
dengan kulit. Bahan pewangi organik dapat dengan mudah terserap melalui kulit
dan menyebabkan efek pada kulit seperti iritasi dan dermatitis. Meskipun
komponen zat kimia aktif yang dikandung tiap pewangi berbeda-beda. Itulah mengapa
efek bahayanya bisa berbeda-beda tergantung pada komposisi dan bahan aktif
aromanya.
Di pasaran ada berbagai jenis pewangi. Ada yang padat (biasanya pewangi yang
diperuntukkan untuk toilet dan lemari), ada yang cair, gel dan ada juga yang
semprot. Sementara penggunaannya, ada yang digantungkan, ada yang diletakkan
begitu saja, atau ditempatkan di bibir AC maupun kipas angin.
Menurut Budiawan, bahaya pewangi umumnya tergantung pada jenis/bentuknya maupun
pewangi dan komponen-komponen kimia aktif yang terkandung di dalamnya,
disamping faktor pengaruh lain, seperti jalur paparannya. Dari segi bentuk,
sediaan yang mudah menguap (aerosol) lebih berisiko bagi tubuh, terutama jika
terjadi kontak langsung melalui sistem pernapasan. Namun demikian kontak yang
terjadi melalui kulit pun bukan tak berisiko mengingat zat pewangi akan begitu
mudah memasuki tubuh.
Asal tahu saja, di pasaran ada 2 jenis zat pewangi, yakni yang berbahan dasar
air dan berbahan dasar minyak. Pewangi berbahan dasar air umumnya memiliki kestabilan
aroma (wangi) relatif singkat (sekitar 3-5 jam). Itulah mengapa pewangi
berbahan dasar air relatif lebih aman bagi kesehatan dibandingkan pewangi
berbahan dasar minyak. Memang, pewangi berbahan dasar minyak lebih tahan lama
sehingga harga jualnya bisa lebih mahal. Pewangi jenis ini biasanya menggunakan
beberapa bahan pelarut/cairan pembawa, di antaranya isoparafin, diethyl
phtalate atau campurannya.
Sementara jenis pewangi yang disemprotkan umumnya mengandung isobutane,
n-butane, propane atau campurannya. Untuk bentuk gel disertai kandungan bahan
gum. Adapun zat aktif aroma bentuk ini umumnya berupa campuran zat pewangi,
seperti limonene, benzyl acetate, linalool, citronellol, ocimene, dan
sebagainya.
Menurut Budi, bagi prinsipnya semua zat pewangi tersebut berisiko terhadap
kesehatan. Terutama pada mereka yang berada pada kondisi rentan, seperti ibu
hamil, bayi, dan anak, ataupun orang yang sangat sensitif terhadap zat-zat
pewangi. Sayangnya, baru sekitar 80% zat pewangi belum teruji keamanannya
terhadap manusia. Di sinilah kewaspadaan konsumen betul-betul dituntut. Ada pun
pewangi yang sudah dilarang The International Fragrance Association (IFRA) di
antaranya pewangi yang mengandung musk ambrette, geranyl nitrile, dan 7-methyl
coumarin. Sedangkan yang berbentuk gel dilarang bila mengandung zat-zat
pengawet yang berbahaya bagi kesehatan, seperti formaldehyde dan methylchloroisothiozilinone.
Jadi, tidak semua pewangi memberi efek negatif bagi kesehatan. Artinya, kita
masih bisa menggunakan pewangi yang beredar di pasaran.
Hindari Sinar Matahari
Secara kasat mata mungkin sulit untuk mengetahui mana pewangi yang aman dan
mana yang berbahaya. Sebagai tindak pencegahannya, konsumen harus cerdik
memilih pewangi dengan merek terdaftar/teregistrasi. Dengan demikian
keamanannya minimal cukup terjamin di bawah lembaga pengawas/pemberi izin.
Tentu saja demi keamanan konsumen, badan pengawas harus benar-benar mengontrol
peredaran pewangi ini. Terlebih terhadap pewangi dengan kandungan zat-zat
tertentu yang memang diketahui berisiko bagi kesehatan. Mengapa hal ini perlu
ditekankan? Tak lain, tegas Budi, pihak produsen kerap tidak mau mencantumkan
pada kemasan mengenai komposisi bahan-bahan dalam pewangi yang diproduksinya.
Padahal semestinya produsen pewangi menyadari pentingnya keamanan bagi
konsumen. Produsen yang seperti ini tentu akan menggunakan zat-zat yang
benar-benar sesuai dengan mengikuti aturan lembaga pengawas dan perizinan
terkait, dalam hal ini BPOM/Depkes. Atau sekurang-kurangnya mengikuti apa yang
ditetapkan lembaga Internasional IFRA. Dengan begitu, pewangi yang mereka
produksi dan edarkan pastilah memiliki kompetensi terhadap zat pewangi yang
diizinkan.
Untuk konsumen awam, Budi menganjurkan agar senantiasa cermat membaca label
atau registrasi produk. Selain itu, gunakan pewangi seperlunya saja sesuai
kebutuhan. Menggunakannya pun jangan berlebihan sambil selalu mengedepankan
kehati-hatian dalam memilih produk. Jangan lupa untuk menyimpannya jauh dari
jangkauan anak-anak, terutama balita. Yang tak kalah penting untuk
diperhatikan, hindari produk pewangi dari kontak langsung dengan sinar matahari
guna mencegah terjadinya perubahan kimiawi. Itulah mengapa hindari area yang
langsung terpapar sinar matahari sebagai tempat penyimpanan pengharum.
Ganggu Pertumbuhan Janin
Pewangi dapat saja memicu gangguan pernapasan ataupun asma, sakit kepala hingga
kemungkinan gangguan pertumbuhan janin pada ibu hamil. Tapi hal ini akan
terjadi jika memakai zat pewangi yang sudah dilarang penggunaannya sebagaimana
yang direkomendasikan.
Hindari Pemakaian Kamper dari Kebutuhan Bayi
Menurut Budi, berdasarkan hasil studi terdahulu (WHO), jika zat kamper
(naftalen) kontak langsung pada bayi secara perkutan (penyerapan melalui kulit)
dan paparannya sering serta berlebihan dalam penggunaaannya, dapat menyebabkan
peningkatan kadar billirubin dalam darah yang dapat mengganggu sistem saraf
pusat.
Lebih Aman "si Penyerap"
Sebenarnya, tegas Budiawan, asalkan komponen zatnya sesuai fungsinya, maka
antibau sebenarnya sudah memadai untuk dimanfaatkan. Antibau ini biasa kita
lantaran kemampuannya menyerap bau dan kelembapan udara di kamar, mobil, maupun
kulkas. Pada prinsipnya, zat antibau bekerja dengan cara menyerap zat-zat
penyebab bau dan kandungan air di dalam udara. Kandungan zat antibau ini
biasanya berupa karbon aktif, silika gel atau bahan sejenis polimer dan kadang
ditambahkan pula zat pewangi. Itulah sebabnya, dilihat dari segi keamanannya,
produk jenis ini lebih aman daripada pengharum/pewangi.
"Produk ini mekanisme kerjanya hanya menyerap. Sedangkan pewangi mekanisme
kerja zatnya melepaskan zat pewangi." Hanya saja agar penggunaannya
efektif, perhatikan benar masa pakainya. Soalnya, zat antibau bekerja
berdasarkan penyerapan dan memiliki kapasitas terbatas. Artinya, bisa mencapai
tingkat kejenuhan.
Beberapa produk memberi indikator khusus tanda sudah jenuh. Misalnya ada
perubahan warna dari warna asalnya atau menunjukkan indikasi lainnya. Jika
sudah jenuh mau tidak mau harus diganti. Meski tidak tertutup kemungkinan ada
beberapa produk zat penyerap yang tetap masih bisa digunakan sekalipun sudah
jenuh. Caranya? Lebih dulu dengan mengaktifkannya kembali lewat pemanasan oven
dengan suhu mencapai sekitar 105 derajat Celcius hingga kembali ke keadaan
semula.
Kompas.com
20 user sedang online
Anda pengunjung ke-1,525,913