Saya mengalami bab yang keras sekali pada saat hamil, sampai suatu saat mengalami sakit yang luar biasa. Setelah melahirkan walaupun bab saya sudah tidak keras, tetap saja saya merasakan sakit. Awalny... detail
Joko Haryanto
Terima kasih berkat pengobatan dari pak Gunawan, keluhan wasir saya sudah berkurang dan sembuh. Mohon di kirimkan photo ke email berikut sebagaimana pembicaran terdahulu. Terima kasih atas bantuan pen... detail
Brian Manope - Bitung Barat
Sebelum berobat ke Pak Gunawan, saya sudah menderita anus fistula selama 4 tahun lebih, setiap kali kumat sakit sekali, sampai saya tidak dapat bekerja. Setelah saya disuruh Bos saya untuk berobat k... detail
Artikel Lainnya » Terapi dan Diet Anak Penderita Autisme
Urut berdasarkan
Terapi dan Diet Anak Penderita Autisme
Autisme adalah gangguan perkembangan
komplek yang biasanya mulai terlihat pada 3 tahun pertama usia bayi serta dapat
mempengaruhi kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Autisme biasanya dijelaskan dengan beberapa tingkah laku tertentu. Belum
diketahui dengan pasti penyebab tunggal dari autisme, tetapi dengan semakin
banyaknya penelitian yang dilakukan diharapkan dapat lebih membantu keluarga
yang mempunyai anggota keluarga penderita autisme.
Autisme menyebabkan anak bertingkah laku yang tidak lazim, bisa berupa
menepuk-nepuk tangan, mengucapkan kata yang sama berulang-ulang, mempunyai
temperamen yang pemarah atau hanya bermain dengan 1 mainan saja. Kebanyakan
anak yang menderita autisme tidak menyukai perubahan dalam kesehariannya.
Anak-anak tersebut menyukai jadwal yang selalu sama dan mungkin juga bersikeras
supaya mainan atau benda tertentu diatur sedemikian rupa dan menjadi marah bila
benda tersebut dirubah atau dipindahkan.
Jika seseorang menderita autisme maka otaknya mempunyai masalah untuk dapat
memahami lingkungan sekitarnya. Setiap hari otak manusia akan menterjemahkan
penglihatan, suara, penciuman dan hal lain yang dialami oleh tubuh. Jika otak
tidak mampu untuk membantu memahami hal-hal tersebut, maka kita akan mengalami
kesulitan untuk berfungsi, berbicara, bepergian ataupun menjalankan aktiftas
sehari-hari.
Untuk menentukan apakah seorang anak menderita autisme atau tidak, sangatlah
sulit. Orang tua terkadang merupakan orang pertama yang mengetahui apabila
terjadi masalah pada anak, misalnya anak belum juga berbicara pada seusianya,
tidak terlalu tertarik terhadap orang lain, atau bertingkah laku yang tak
biasanya. Tetapi gejala tersebut tidak bisa langsung dihubungkan dengan
autisme, karena misalnya anak yang lambat berbicara bisa jadi karena mempunyai
masalah pendengaran.
Seringkali para spesialis harus bekerjasama dalam sebuah tim untuk dapat
mencari tahu apa penyebabnya. Para spesialis tersebut bisa termasuk, dokter
anak, dokter syaraf anak, psikiater, tenaga psikolog anak, tenaga terapi wicara
anak, fisioterapis, dll. Tim tersebut akan mempelajari saat anak bermain,
belajar, berkomunikasi dan bertingkah laku. Para tim juga akan memperhatikan
catatan dari orang tua. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, dokter akan
dapat memutuskan apakah seorang anak menderita autisme atau masalah lain.
Salah satu masalah dalam penanganan penderita autisme adalah tidak adanya
standar baku dalam hal terapi untuk autisme. Hal ini karena penyebab autisme
sendiri tidak banyak diketahui, terlebih lagi tiap penderita biasanya
menunjukan hal yang berbeda-beda baik secara fisik, emosional, tingkah laku dan
masalah sosial. Walaupun demikian di dalam literatur sendiri dapat ditemukan
berbagai jenis terapi untuk mengatasi masalah autisme.
Berikut adalah beberapa jenis terapi yang digunakan untuk menangani autisme
:
1.Analisa tingkah laku
(Applied Behavioral Analysis (ABA))
Terapi ini merupakan terapi yang tertua dan paling banyak diteliti serta
dikembangkan untuk autisme. Terapi ABA ini merupakan sistem pelatihan intensif
dengan menggunakan hadiah yang berfokus terhadap sistem pengajaran tertentu.
2.Terapi wicara
Hampir semua penderita autisme mempunyai masalah bicara ataupun bahasa sehingga
diharapkan dengan terapi bicara ataupun berbahasa dapat membantu penderita
autism untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3.Terapi okupasi
Terapi okupasi berfokus untuk membentuk kemampuan hidup sehari-hari. Karena
kebanyakan penderita autisme mengalami perkembangan motorik yang lambat, maka
terapi okupasi sangatlah penting. Seorang terapis okupasi juga dapat memberikan
latihan sensorik terintegrasi, yaitu suatu teknik yang dapat membantu penderita
autisme untuk mengatasi hipersensitifitas terhadap suara, cahaya maupun
sentuhan.
4.Terapi kemampuan
sosial
Salah satu akibat dari autisme adalah sedikitnya kemampuan sosial dan
komunikasi. Banyak anak yang menderita autisme memerlukan bantuan untuk
menciptakan kemampuan supaya dapat mempertahankan percakapan, berhubungan
dengan teman baru atau bahkan mengenal tempat bermainnya. Seorang terapis
kemampuan sosial dapat membantu untuk menciptakan atau menfasilitasi terjadinya
interaksi sosial.
5.Terapi
fisik/fisioterapi
Autisme merupakan perkembangan perfasif yang lambat. Banyak penderita autisme
yang memiliki penundaan perkembangan motorik dan beberapa mempunyai massa otot
yang rendah (lemah). Terapi fisik dapat melatih kekuatan, koordinasi dan
kemampuan dasar berolahraga.
6.Terapi bermain
Walaupun terdengar aneh, tetapi anak penderita autisme memerlukan bantuan untuk
bermain. Bermain juga dapat digunakan sebagai alat untuk melatih percakapan,
kemampuan berkomunikasi dan sosial. Terapi bermain ini dapat digabungkan dengan
terapi berbicara, terapi okupasi dan terapi fisik.
7.Terapi tingkah laku
Anak yang menderita autisme seringkali terlihat frustasi. Mereka kesulitan
untuk mengkomunikasikan kebutuhan mereka dan menderita akibat hipersensitifitas
terhadap suara, cahaya ataupun sentuhan sehingga terkadang mereka berlaku kasar
atau mengganggu. Seorang terapis tingkah laku dilatih untuk dapat mengetahui
penyebab dibalik prilaku negative tersebut dan merekomendasikan perubahan
terhadap lingkungan ataupun keseharian anak untuk dapat memperbaiki tingkah
lakunya.
8.Terapi Perkembangan
Terapi perkembangan atau developmental therapies bertujuan untuk membangun
minat, kekuatan dan perkembangan anak sendiri untuk meningkatkan kemampuan
kecerdasan, emosional dan sosialnya. Terapi perkembangan seringkali bertolak
belakang dengan terapi tingkah laku, yang biasanya paling baik dilakukan untuk
mengajarkan keterampilan khusus pada anak, seperti misalnya mengikat tali
sepatu atau menggosok gigi dll.
9.Terapi visual
Banyak penderita autisme merupakan pemikir visual, sehingga metode pembelajaran
berkomunikasi melalui gambar dapat dilakukan. Salah satu caranya adalah melalui
PECS (Picture Exchange Communication). Selain itu pembelajaran melalui video
juga dapat dilakukan baik dengan video modeling, video games ataupun sistem
komunikasi elektronik lain. Metode ini dapat menampung kelebihan penderita
autisme di bidang visual untuk digunakan membangun keterampilan dan
komunikasinya.
10.Terapi Biomedis
Terapi biomedis termasuk juga penggunaan obat-obatan untuk penanganan autisme,
walaupun kebanyakan perawatan biomedis yang dilakukan berdasarkan metode
pendekatan DAN (Defeat Autism Now). Dokter yang telah menjalani pelatihan
mengenai metode DAN ini akan menentukan diet khusus, supplement ataupun
perawatan alternative lain untuk penanganan penderita autisme. Di AS sendiri
perawatan ini belum mendapatkan persetujuan dari FDA (Food dan Drug
Administration) ataupun CDC (Center for Disease Control) walaupun banyak cerita
anekdot yang melaporkan hasil positif dari terapi tersebut. Jika memang berniat
untuk berkonsultasi dengan praktisi DAN, pastikan orang tersebut berlatar
belakang kedokteran.
Autisme merupakan kelainan otak yang kompleks yang belum diketahui obatnya.
Oleh sebab itu, Keluarga penderita autisme banyak yang tertarik untuk melakukan
metode alternative lain, seperti pengaturan makanan ataupun nutrisi makanan
yang dapat membantu menangani gejala autisme.
Menghilangkan gluten (protein yang terdapat pada tepung terigu, gandum atau
oats) dan casein (protein yang terdapat pada produk susu dan olahannya) yang
biasa disebut dengan diet GFCF (Gluten Free, Casein Free) merupakan salah satu
diet yang popular untuk mengatasi gejala autisme. Hal ini berdasarkan hipotesa
bahwa protein tersebut diserap secara berbeda pada anak yang menderita autisme
dan bereaksi menyerupai reaksi opiat di otak, hipotesa tersebut bukanlah
berdasarkan reaksi alergi. Baik hipotesa ataupun efektivitas dari terapi
tersebut belum mempunyai dasar penelitian yang ilmiah dan penelitian lain pun
masih banyak dilakukan di berbagai tempat. Meskipun demikian banyak keluarga
yang melaporkan bahwa program diet penghilangan gluten dan casein tersebut
dapat membantu beberapa hal seperti BAB, tidur, aktifitas dan tingkah laku anak
menjadi lebih teratur serta meningkatkan kemajuan individu dari anak.
Apabila ingin menjalankan diet tersebut para orang tua sebaiknya tetap
berpatokan kepada panduan gizi dasar bagi anak, seperti misalnya dengan
menghilangkan konsumsi susu akan berakibat berkurangnya asupan kalsium bagi
tubuh sehingga harus diberikan sumber alternative lain karena kalsium sangat
penting bagi pertumbuhan tulang anak. Disarankan juga untuk para orangtua agar
berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi terlebih dahulu apabila ingin
menjalankan diet atau pembatasan makanan pada anak. Tenaga kesehatan tersebut
juga dapat membantu memilihkan program diet yang tepat dan sesuai bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak termasuk pemilihan menu makan yang seimbang.
24 user sedang online
Anda pengunjung ke-1,525,892