Saya mengalami bab yang keras sekali pada saat hamil, sampai suatu saat mengalami sakit yang luar biasa. Setelah melahirkan walaupun bab saya sudah tidak keras, tetap saja saya merasakan sakit. Awalny... detail
Joko Haryanto
Terima kasih berkat pengobatan dari pak Gunawan, keluhan wasir saya sudah berkurang dan sembuh. Mohon di kirimkan photo ke email berikut sebagaimana pembicaran terdahulu. Terima kasih atas bantuan pen... detail
Brian Manope - Bitung Barat
Sebelum berobat ke Pak Gunawan, saya sudah menderita anus fistula selama 4 tahun lebih, setiap kali kumat sakit sekali, sampai saya tidak dapat bekerja. Setelah saya disuruh Bos saya untuk berobat k... detail
Top Stories » Anak Autisme Tidak Boleh Sembarang Makan
Urut berdasarkan
Anak Autisme Tidak Boleh Sembarang Makan
Autis adalah gangguan perilaku yang
luas dan berat, mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial, perilaku motorik,
emosi, dan persepsi sensorik yang banyak ditemukan pada anak-anak.
Dalam banyak kasus, gejala autis
muncul sebelum anak berusia tiga tahun, bahkan dalam beberapa kasus gejala
autis justru sudah nampak sejak lahir.
Selama puluhan tahun penyebab gejala
autis masih misteri dan baru sekitar 10 tahun terakhir diketahui adanya
kelainan struktur otak yang menjadi penyebab.
Dr dr Sri Achadi Nugraheni, ahli gizi
yang tertarik meneliti tentang autisme, terutama tentang pengaruh makanan dan
minuman terhadap autisme. "Saya tertarik dengan persoalan autisme sejak
1985, ketika itu saya masih kuliah," kata Nugraheni yang kini menjabat
Kepala Bidang Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Penyandang autisme di dunia kini
cenderung meningkat. Penelitian terakhir dari Autism Reseach Centre of
Cambridge University menyebutkan ada 58 anak autis per 10.000 kelahiran.
"Padahal, sekitar 10 tahun lalu
hanya ada sekitar 2-4 anak autis per 10.000 kelahiran, sehingga di Indonesia
diperkirakan lahir 6.900 anak autis per tahun," katanya.
Karena itu, ia terdorong melakukan
penelitian tentang pengaruh asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak
autis dengan mengambil sampel di Semarang dan Solo.
Menurut dia, penyandang autis
kemungkinan dapat diatasi dengan makanan atau minuman tertentu, sebab makanan
dan minuman memiliki pengaruh cukup besar bagi kehidupan.
Ada penelitian yang menyatakan bahwa
diet terhadap makanan dan minuman yang mengandung gluten (protein dari
gandum) dan casein (protein dari susu) berpengaruh besar terhadap
autisme.
Namun, kata dia, beberapa pendapat
justru meragukan kebenaran teori itu karena belum dapat dibuktikan secara
ilmiah.
"Penelitian itu sebenarnya sangat
membantu para orang tua yang memiliki anak autis, agar mereka tahu makanan dan
minuman apa saja yang harus dihindari," katanya.
Ia mengambil sampel 160 anak autis
dari enam empat terapi di Semarang yang dinamakan kelompok intervensi dan 120
anak autis dari lima tempat terapi di Solo yang dinamakan kelompok kontrol.
Lewat penelitian itu, ia menganjurkan
diet ketat menghindari asupan mengandung casein yang berasal dari susu,
misalnya susu sapi, susu bubuk, susu skim, susu kambing, mentega, dan keju.
Para orang tua anak penyandang autis
juga diminta menghindari pemberian segala macam asupan mengandung gluten
yang berasal dari gandum, misalnya sereal kepada anaknya.
"Setelah itu, kami mengadakan
pengamatan dan konseling kepada setiap orang tua untuk memantau pelaksanaan
diet bebas casein dan gluten, setiap dua minggu sekali selama
tiga bulan," katanya.
Pengamatan dan konseling secara rutin
dan terus-menerus itu penting, terutama untuk memonitor apakah diet bebas casein
dan gluten masih dijalankan dengan benar.
Menggembirakan
Setelah melakukan pengamatan dan
pengawasan diet selama tiga bulan itu, ia menemukan perkembangan yang cukup
baik bagi penyandang autis, terutama dalam perubahan perilaku yang positif.
"Gangguan perilaku interaksi
sosial, antara lain rasa malu tidak wajar, tidak ada kontak mata, suka
menyendiri mengalami penurunan signifikan," katanya.
Gangguan komunikasi nonverbal,
lanjutnya, seperti bergumam kata-kata tidak bermakna, nada dan volume bicara
tidak wajar, menarik tangan orang juga berkurang.
Ia mencatat pula bahwa gangguan
perilaku motorik, antara lain hiperaktif dan berjalan secara tidak wajar turut
berkurang, seperti halnya gangguan emosi dan persepsi sensorik, misalnya suka
menjilat dan tidak merasa sakit jika terluka.
Hasil diet yang menggembirakan itu
ditunjang oleh berbagai penelitian di bidang metabolisme yang menunjukkan
banyak anak autis mengalami gangguan metabolisme, salah satunya kelainan
pencernaan.
"Kelainan pencernaan yang ditemukan
pada anak autis adalah adanya lubang-lubang kecil pada saluran pencernaan,
tepatnya di mukosa usus," katanya.
Di sisi lain, kata dia, casein
dan gluten ternyata merupakan protein yang paling susah dicerna karena
termasuk asam amino pendek yang sering disebut peptide.
Ia mengatakan, peptide dalam
keadaan normal biasanya hanya diabsorbsi sedikit dan sisanya dibuang, namun
karena adanya kebocoran mukosa usus menjadikannya masuk ke dalam sirkulasi
darah.
"Di dalam darah peptide
ini hanya sebentar, karena sebagian dikeluarkan lewat urin dan sisanya masuk ke
dalam otak yang dapat menempel pada reseptor opioid di otak,"
katanya.
Nantinya, peptide itu akan
berubah menjadi morfin yang dapat memengaruhi fungsi susunan syaraf dan dapat
menimbulkan gangguan perilaku.
Diet bebas gluten dan casein
itu sebenarnya merupakan terapi penunjang yang tidak dapat bersifat langsung
menyembuhkan autisme, namun diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan.
24 user sedang online
Anda pengunjung ke-1,525,643